Kenapa Lebarannya Beda Lgi di Tahun 2011

Kenapa Lebarannya Beda Lgi di Tahun 2011

Posted on 30 Agustus 2011 by Rovicky

2 Votes
Seperti terjadi ditahun 2006 yg pernah didongengkan disini : Kapan mau lebaran nih ?
Tahun 2011 ini terulang lagi. Padahal kita tahu petunjuknya sih sederhana saja cuman begini bunyinya
“Berpuasalah kamu dengan melihat hilal dan berhentilah berpuasa karena melihat hilal”.
Tetapi ternyata buntutnya puanjang …. mengapa bisa terjadi ?
Memang perintah puasa itu menggunakan penanggalan bulan, namun penentuan waktu bebuka dan sholat dengan matahari …. looh lak lucu ya ?
Tapi justru dengan “kelucuan” inilah maka manusia ini diminta untuk berpikir, karena perintah yang sederhana diatas ternyata saat inipun masih memerlukan pemikiran, masih membutuhkan olah pikir. Bahkan setelah lebih dari 1400 tahun kita masih diliput perbedan itu. Terutama bagi yang mau menguji pemikirannya, kalau mau ngikut saja ya boleh wong ada juga perintahnya kok.
“Taatlah kamu kepada Allah dan Rasulmu dan Pemimpinmu”
Nah aku bukan ahli rukyah, bukan ahli hisab, juga awam dalam sidang isbath penentuan penanggalan ini, tetapi sepertinya ini menarik juga kan, mencoba untuk mengerti mengapa bisa ada perbedaan.
Dibawah ini ada peta (hasil perhitungan) dimana kira-kira hilal akan terlihat :
Gini cara baca peta dibawah ini :
• A q> 0,216 mudah terlihat dengan mata telanjang
• B -0,014 <q <terlihat dengan mata telanjang 0,216 bawah kondisi atmosfer yang sempurna
• C -0,160 <q <-0,014 mungkin perlu bantuan optik untuk menemukan bulan sabit sebelum dapat dilihat dengan mata telanjang
• D -0,232 <q <-0,160 hanya dapat dilihat dengan teropong atau teleskop (kecil) konvensional
• E -0,293 <q <-0,232 di bawah batas normal deteksi dengan teleskop (kecil) konvensional
• F q 0 menit (Lag = waktu terbenamnya Bulan dikurangi waktu terbenamnya Matahari). Sementara definisi imkan rukyah tidak hanya menyaratkan Bulan terbenam lebih lambat dibanding Matahari, namun juga menyaratkan umur atau batas ketinggian sehingga hilaal adalah Bulan dengan umur minimal 8 jam pasca konjungsi atau tinggi nampaknya (mar’i) 2 derajat (memiliki Lag > 16 menit).
Harus digarisbawahi, kedua definisi tersebut tak satupun yang didasari fakta ilmiah, sehingga tak satupun yang bisa mengklaim definisinya lebih ilmiah dibanding yang lain. Mengapa? Sebab keduanya berdasarkan pada konsep hilaal asumtif. Wujudul hilaal hanya dipedomani Muhammadiyah dan Muhammadiyah menolak imkan rukyah dengan alasan karena tidak ilmiah. Memang, tak ada satupun fakta observasi yang menunjang definisi imkan rukyah. Ada memang yang mengklaim imkan rukyah merupakan derivasi dari observasi hilaal 29 Juni 1984 dan 16 September 1974. Namun evaluasi independen pun menyatakan dua laporan tertanggal tersebut bukan fakta observasi, melainkan kasus salah lihat. Namun sebaliknya, agak aneh pula saat menolak dengan alasan tak ilmiah, Muhammadiyah sebagai organisasi yang memandang dirinya pembaharu dan lebih rasional justru memilih definisi wujudul hilaal yang juga tak kalah tak ilmiahnya karena tak ada satupun fakta observasi menunjangnya.
Dengan mudah bisa kita lihat, jika terjadi situasi yang membuat Lag bernilai lebih dari 0 menit namun kurang dari 16 menit, kedua definisi tersebut akan menyajikan hasil berbeda. Inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan penetapan 1 Syawwal 1432 H antara Muhammadiyah dengan yang lainnya di Indonesia.
5. Bisa Disatukan ? Bisa
Banyak guyonan menyebut perbedaan penetapan 1 Syawwal justru membawa berkah. Para da’i menjadi berkesempatan untuk berkhutbah dua kali, sementara publik pun berkesempatan berlebaran dua kali pula dalam dua hari berturut-turut. Namun fakta di lapangan justru sebaliknya. Bukan kegembiraan yang muncul, melainkan kegamangan. Pihak yang melaksanakan 1 Syawwal lebih awal dipaksa untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi, menghormati yang masih berpuasa. Sebaliknya pihak yang melaksanakan 1 Syawwal lebih akhir menjadi gamang bersikap, apakah hendak melibatkan pihak yang lebih awal dalam kegiatan menyambut 1 Syawwal atau tidak. Dalam konteks global, situasi ini kian memperkukuh rasa inferioritas Umat Islam terhadap peradaban-peradaban lain yang bersanding dengannya, karena hanya dalam hal kalender saja, hal esensial yang menunjukkan daya lenting peradaban, Umat Islam tidak bisa mempersatukannya. Apalagi dalam hal-hal yang lebih strategis di tengah percaturan kekuatan-kekuatan dunia.
Apakah perbedaan itu tidak bisa dihilangkan, dengan kata lain apakah persatuan tidak bisa dicapai? Dalam konteks Indonesia, bisa ! Dan secara teknis hal tersebut mudah. Apakah mau menggunakan hisab atau rukyat, sepanjang kita campakkan baik definisi wujudul hilaal maupun imkan rukyah dan bersama-sama menyusun sebuah definisi tunggal yang berterima di semua pemangku kepentingan sekaligus tidak mengabaikan fakta astronomis-meteorologis-fisiologis, maka Insya’ Alloh 1 Syawwal akan ditetapkan pada saat yang sama.
Inilah pekerjaan rumah bagi setiap pemangku kepentingan, yang selama ini cenderung mengabaikannya dan berlindung pada kata-kata toleransi. Segenap pihak harus mau duduk bersama, membentuk tim perumus yang membahas persoalan ini dari segenap aspek. Definisi tunggal harus mencakup sebuah persamaan batas yang matematis, sekaligus menyingkirkan sistem-sistem perhitungan (hisab) yang terbukti tidak menyajikan hasil akurat tatkala dibandingkan dengan gerhana. Definisi tunggal bisa terwujud tatkala semua membahasnya dengan kerendahan hati, tanpa ada perasaan menang atau kalah dalam aspek ini. Sebab setelah itu tugas berat masih menanti, yakni bagaimana menyosialisasikannya kepada publik Indonesia dalam jumlah demikian besar dan dalam lingkup geografis demikian luas.
Kami sendiri telah menyusun sebuah usulan tentang definisi tunggal semacam itu, dalam wujud yang kami namakan kriteria RHI. Riset Sudibyo (2009, 2010, 2011) berdasarkan basis data visibilitas hilaal Indonesia 2007 – 2009 menyimpulkan hilaal adalah Bulan dengan Lag antara 24 hingga 40 menit. Konsekuensinya terlihatnya hilaal tak hanya bergantung pada tinggi mar’inya saja, namun juga dipengaruhi selisih jarak mendatar (beda azimuth) Bulan dan Matahari yang membentuk persamaan batas. Singkatnya, bila beda azimuthnya 7,5 derajat tinggi Bulan minimal 3,6 derajat, maka tingginya terus bertambah seiring mengecilnya nilai beda azimuth sehingga pada beda azimuth 0 derajat tinggi Bulan minimal adalah 9,4 derajat. Persamaan batas ini ternyata tidak hanya berlaku bagi di Indonesia, melainkan bersifat global meski terbatas hanya di daerah tropis. Laporan hilaal terlihat, bila berada di bawah persamaan batas tersebut, sebaiknya harus disikapi dengan berbesar hati sebagai kasus salah lihat.

=====
Kmarin ada yang ngemail ke inbox tanya saya, “Kapan Pakdhe berlebaran”.
Saya jawab begini ,
Keputusan itu merupakan sebuah kesepakatan bersama. Itu dibuat dengan sidang Isbat. Memang dengan kriteria yg disepakati maka hariraya akan jatuh pada hari Rabo, 31 Agustus. Secara protokoler, tata aturan membuat keputusan hal itu tidaklah keliru. Dan isnyaallah syah. Namun saya mempunyai keyakinan sendiri, dan berlebaran pada hari Selasa, 30 Agustus. Pertimbangan saya Rukyah Global. Dan juga kalau melihat kisah jaman Nabi maka melihat hilal tidak hanya sewaktu matahari tenggelam saja. Bahkan ada yang bercerita saat subuh sudah melihat hilal maka puasanya dibatalkan saat itu juga.
Saya ngga melihat hal ini salah atau bener. Tapi apakah kita benar-benar yakin atau tidak dengan pengetahuan yg dimengerti utk diri sendiri.
Saya barangkali termasuk orang sangat moderat.
Perbedaan itu bukan perpecahan.
Keberagaman tidak lebih buruk dari keseragaman.
Satu itu baik namun banyak itu indah.
Sejak kecilpun kita tahu betapa indahnya pelangi.
‘Pelangi pelangi … Alangkah indahmu …!’

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s